AKULTURASI BUDAYA DAN SEJARAH MASJID MENARA LAYUR SEMARANG : JEJAK KOMUNITAS ARAB DI KOTA PESISIR

Authors

  • M. Azka Ulinnuha Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
  • Aulya Naysa Abila Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
  • Saskia Meilana Siswanto Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
  • Nasila Ayu Natasya Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
  • Faiz Irkham Maulana Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
  • M. Rikza Chamami Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

DOI:

https://doi.org/10.62567/ijis.v2i1.1797

Keywords:

Akulturasi Budaya, Sejarah Kota Pesisir, Arsitektur Tradisional

Abstract

Abstrak ini mengkaji akulturasi budaya dan sejarah Masjid Layur Menara yang terletak di Semarang, sebuah kota pesisir yang kaya akan keberagaman budaya.Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perpaduan budaya tercermin dalam desain arsitektur dan fungsi dari masjid tersebut, yang juga menjadi saksi bisu kehadiran komunitas Arab di daerah ini. Melalui studi ini, diharapkan terungkap peran penting masjid dalam memperkuat identitas budaya lokal yang plural.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data meliputi observasi langsung ke lokasi, studi literatur terkait sejarah dan budaya setempat, serta wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat dan pengurus masjid. Pendekatan ini membantu mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang nilai sejarah dan budaya yang melekat pada Masjid Layur Menara, sehingga analisis dapat dilakukan secara mendalam dan kontekstual.Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Layur menggabungkan elemen arsitektur dari budaya Arab, Melayu, dan Jawa.Salah satu ciri khasnya adalah menara masjid yang memiliki fungsi ganda, tidak hanya sebagai simbol keagamaan tetapi juga sebagai mercusuar yang berperan mengawasi lalu lintas kapal di sekitar pelabuhan.Hal ini menunjukkan keterkaitan erat antara fungsi sosial dan keagamaan yang melekat pada masjid dalam konteks kehidupan masyarakat pesisir Semarang.Penelitian ini menegaskan bahwa Masjid Layur Menara bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol penting akulturasi budaya dan keberadaan komunitas Arab yang memberikan kontribusi pada kehidupan sosial dan budaya di Semarang.Masjid ini dapat dipandang sebagai warisan budaya yang memperkaya sejarah kota pesisir sekaligus membantu melestarikan identitas budaya yang beragam dan dinamis di wilayah tersebut.

References

Ahmad, S. (2024). Melihat Akulturasi Budaya Lewat Masjid Layur Semarang yang Berusia Dua Abad. Good News from Indonesia. Firmansyah, A. & Dewi, R. (2025). Politik ‘Divide et Impera’ dan Pengaruhnya pada Pemukiman Etnis di Semarang. Jurnal Kajian Sosial dan Budaya, 12(4), 150-160.

Hasan, N. A. (2025). Sejarah Berdirinya Masjid Menara Layur di Lingkungan Masyarakat Pesisir Semarang: Proses Akulturasi Budaya dan Fungsi Sosial. Wawancara pribadi, Kampung Melayu, Semarang.

Hidayat, B. (2024). Dinamika Sosial dan Pluralisme di Kawasan Kampung Melayu Semarang.Jurnal Sosiologi dan Antropologi, 9(2), 50-58.

https://minanews.net/melihat-lebih-dekat-masjid-layur-kampung-melayu- semarang/.

Kurniawan, R. (2025). Studi Perkembangan Bentuk Bangunan Masjid Layur di Kota Semarang. Jurnal Realisasi Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain, 15(2), 45- 55. Lestari, D. (2025). Sejarah Masjid Layur Semarang yang Didirikan oleh Saudagar Yaman. Kumparan, 31 Januari 2025

Nurhidayah, A., et al. (2019). Masjid Layur Semarang: Nilai Arsitektural dan Historis dalam Konteks Masyarakat Pesisir. Realisasi: Jurnal Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain, 5(2), 1-15. Diakses dari https://journal.asdkvi.or.id/index.php/Realisasi/article/download/652/883/3639.

Putra, H. (2024). Masjid Menara Layur Kelurahan Dadapsari Semarang Utara. Semarang Utara Official Website, 26 Maret 2024.

Redaksi Good News from Indonesia. (2024, 31 Maret). Melihat Akulturasi Budaya Lewat Masjid Layur Semarang yang Berusia Dua Abad. Good News from Indonesia. Diakses dari https://www.goodnewsfromindonesia.id/2024/03/31/melihat- akulturasi-budaya-lewat-masjid-layur-semarang-yang-berusia-dua-abad .

Rizal, M. & Hartono, T. (2025). Akulturasi Budaya dan Tradisi di Kampung Melayu Semarang.Jurnal Sejarah Lokal, 10(3), 112-120.

Santoso, A. (2024). Arsitektur Menara Masjid Layur Asli dari Arab? Begini Kisah Budaya Kampung Melayu Jantungnya Kota Lama Semarang. Suara Merdeka, 4 Oktober 2024.

Sari, N. (2023). Jejak Sejarah dan Peran Sosial Masjid-Masjid Kuno di Semarang. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 8(1), 78-85.

Tim Peneliti. (2022). Peran Masjid Menara Layur terhadap Persebaran Agama dan Kebudayaan di Semarang. Historica: Jurnal Ilmu Sejarah, 6(1), 45-60. Diakses dari https://e- journal.ivet.ac.id/index.php/historica/article/view/2121.

Wahyuni, F. (2023). Masjid Menara Layur, Masjid Tua di Kota Semarang. Jejak Islam, YouTube Channel Dinas Pariwisata Kota Semarang. (2022).Masjid Menara Layur. Cagar Budaya Semarang.Diakses dari https://cagarbudaya.semarangkota.go.id/page/halaman/52 .

Published

2026-01-12

How to Cite

M. Azka Ulinnuha, Aulya Naysa Abila, Saskia Meilana Siswanto, Nasila Ayu Natasya, Faiz Irkham Maulana, & M. Rikza Chamami. (2026). AKULTURASI BUDAYA DAN SEJARAH MASJID MENARA LAYUR SEMARANG : JEJAK KOMUNITAS ARAB DI KOTA PESISIR. Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS), 2(1), 104–113. https://doi.org/10.62567/ijis.v2i1.1797

Similar Articles

<< < 1 2 

You may also start an advanced similarity search for this article.