PRODUKSI DAN KESUKAAN TERHADAP KECAP MANIS TEMPE SEMANGIT DENGAN NILAI EKONOMISNYA

Authors

  • Geri Efriyanto Universitas Dehasen Bengkulu
  • Andwini Prasetya Universitas Dehasen Bengkulu
  • Methatias Ayu Moulina Universitas Dehasen Bengkulu

Keywords:

Ekonomis, Kecap Manis, Semangit, Konsumen

Abstract

Kecap adalah produk fermentasi yang berperan penting dalam masakan Indonesia, terutama sebagai penyedap rasa dengan karakter manis, gurih, dan aroma khas memiliki kualitas sensorik dan keamanan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lama tempe menjadi semangit (3, 4, 5, 6, dan 7 hari) terhadap karakteristik rendemen, organoleptik dan harga pokok penjualan kecap manis yang dihasilkan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan, dilanjutkan fermentasi moromi selama 1 bulan dalam larutan garam 20%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lamanya waktu tempe menjadi semangit berpengaruh terhadap rendemen kecap yang dihasilkan dengan rendemen tertinggi pada tempe semangit 6 hari sebesar 41,88%. Penggunaan bahan baku tempe semangit yang berbeda mempengaruhi tingkat penerimaan panelis terhadap kecap manis tempe semangit terutama pada warna, rasa, dan aroma dengan parameter tertinggi pada perlakuan tempe semangit 3 hari dengan skor tertinggi pada warna, rasa dan aroma masing-masing 3.95; 3.6; dan 3.3 tetapi tidak berpengaruh nyata pada kekentalan. Harga pokok penjualan (HPP) kecap tempe semangit yaitu Rp. 42.175,00 per liter.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Ambartiasari, D. (2021). Analisis rendemen pada proses pengolahan bahan pangan. Jurnal Teknologi Pangan, 5(2), 45–52.

Annisa, D. (2013). Peran hidrolisis protein dalam pembentukan cita rasa pada produk fermentasi. Jurnal Gizi dan Pangan, 8(1), 50–56.

Herliani, R. (2016). Analisis warna pada bahan pangan dan pengaruh pencahayaan terhadap persepsi warna. Jurnal Teknologi Pangan, 7(1), 10–15.

Kurniawan, A. (2020). Uji organoleptik rasa pada produk pangan. Jurnal Teknologi Pangan, 9(1), 20–25.

Kurniawan, A. (2014). Pengaruh pemanasan terhadap perubahan sifat fisik dan kimia produk pangan. Jurnal Teknologi Pangan, 5(2), 40–45.

Ratnaningsih, R., et al. (2025). Sensory profile of soy sauce derived from semangit tempeh. Journal of Traditional Foods, 18(3), 145–159.

Rachmawati, M. H., Soetjipto, H., & Kristijanto, A. I. G. N. (2019). Profil asam lemak minyak tempe busuk. Jurnal Kimia, 13(1), 82–87.

Rahayu, E. S. (2023). Teknologi fermentasi pangan berbasis kedelai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ratnaningsih, R., et al. (2025). Sensory profile of soy sauce derived from semangit tempeh. Journal of Traditional Foods, 18(3), 145–159.

Rizal, M., et al, (2019). Pengaruh lama fermentasi terhadap sifat organoleptik tempe kedelai. Jurnal Teknologi Pangan, 10(2), 85–92.

Sabarella, et al. (2020). Statistik konsumsi kedelai Indonesia.

Soetjipto, et al. (2018). Kandungan Isoflavon pada Tempe Semangit.

Winarno, F. G. 2004. Kimia Pangandan Gizi. Gramedia Pustaka Utama : Jakarta

Zahidah, N., & Lo, Y. (2022). Antioxidant potential of melanoidin from fermented soy products. Journal of Functional Foods, 96, 105–117.

Zahidah, N., & Lo, Y. (2022). Antioxidant potential of melanoidin from fermented soy products. Journal of Functional Foods, 96, 105–117.

Published

2026-06-30