PENYULUHAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MIOPIA TINGGI
DOI:
https://doi.org/10.62567/jpi.v2i1.1409Keywords:
Pola Hidup, Genetik, Miopia TinggiAbstract
Studi yang dikerjakan oleh Holden menemukan bahwa prevalensi miopia global adalah 22,9% dan miopia tinggi 2,7% pada tahun 2000. Dalam dekade berikutnya, prevalensi miopia meningkat menjadi 28,3% dan miopia tinggi naik menjadi 4,0% pada tahun 2010. Prediksi untuk tahun 2050 menyatakan bahwa prevalensi miopia akan mencapai 49,8% dan miopia tinggi akan mencapai 9,8%. Selain itu, data dari WHO pada tahun 2010 mencatat bahwa prevalensi miopia global adalah 27% dan miopia tinggi adalah 2,8%. Berbagai faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya miopia pada pasien meliputi genetik dan pola hidup Miopia merupakan sebuah kelainan refraksi di mana, ketika mata tidak berakomodasi, sinar-sinar sejajar dari objek tertentu difokuskan bukan pada retina, melainkan di depannya.Tinjauan Pustaka: miopia merupakan sebuah kelainan refraksi di mana, ketika mata tidak berakomodasi, sinar-sinar sejajar dari objek tertentu difokuskan bukan pada retina, melainkan di depannya. Metode Penelitian: Dalam penelitian ini, metode deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel dari penelitian ini sebanyak 56 responden. Hasil Penelitian : Setelah dianalisa dengan uji statistik chi-square dimana P = 0,05 diperoleh P Value =0,006 < 0,05 dan diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara faktor genetik dengan kejadian miopia tinggi di Optik Global Palembang. Setelah dianalisa dengan uji statistik chi-square dimana P = 0,05 diperoleh P Value = 0,03 < 0,05 dan diperoleh bahwa ada hubungan yang bermakna antara pola hidup dengan kejadian miopia tinggi di Optik Global Palembang. Kesimpulan : berdasarkan hasil dari uji chi square terdapat ada hubungan antara faktor genetik dan pola hidup terhadap terjadinya miopia tinggi pada pasien di Optik Global Palembang.
References
Budiono, Sjamsu, Trisnowati Taib Saleh, Moestidjab dan Eddyanto. 2013. Ilmu Kesehatan Mata, Surabaya : Pusat Penerbitan dan Percetakan Universitas Airlangga ( AUP ).
Dorlan, W. A. Newman. 2008. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: EGC
Edi S. Affandi. 2009. Sindrom Penglihatan Komputer. Majalah Kedokteran Indonesia.
Gabriel, J. F. 2009. Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC
Ganong. W. F. 2009. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Terjemahan Petrus Andrianto. Jakarta: EGC
Hanursyah. 2009. Panduan Pemeriksaan Visus. Jjakarta: IROOPIN
Ilyas, Sidarta.2011. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Indonesia.
Ilyas, Sidarta. 2001. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ilyas, Sidarta. 2011. Dasar Teknik Pemeriksaan Dalam Ilmu Penyakit Mata, Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Ilyas, Sidarta. 2003. Penuntun Ilmu Penyakit Mata, Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Ilyas, Sidarta dan Sri Rahayu Yulianti. 2017. Ilmu Penyakit Mata, Jakarta : Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jannah, Raodatul. 2016. Segala Gangguan Dan Penyakit Mata, Jakarta : Guepedia The First On Publisher In Indonesia.
Kalangi, Wulan, Laya Rares dan Vera Sumual. (2016). Kelainan Refraksi Di Poliklinik Mata RSUP Prof.DR.R.D Kandau Manado Periode Juli 2014 – 2016. Jurnal Kedokteran Klinik 1( 1 ) : 83 – 91.
Karim, Khusni dan Ihsan Taufiq. (2017). Tingkat Penerangan Dan Jarak Baca Meningkatkan Kejadian Rabun Jauh Pada
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Devi Susanti, Leni Novianti, Rizcita Prilia Melvani, M Fakhruddin, Ester Wijaya

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.













