MAKNA SIMBOLIK WARNA PAKAIAN IMAM DALAM LITURGI GEREJA KATOLIK KAJIAN SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PEIRCE
DOI:
https://doi.org/10.62567/ijosse.v2i3.2824Keywords:
Makna Simbol, Warna Liturgi, Semiotika, Charles Sanders Peirce, Gereja KatolikAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna simbol warna pakaian para imam dalam liturgi Gereja Katolik dengan menggunakan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce, yang meliputi tiga unsur utama, yaitu ikon, indeks, dan simbol. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi kepustakaan. Lokasi penelitian dilakukan di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Fatima Betun, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna-warna liturgi seperti putih, kuning/emas, merah, hijau, ungu, merah muda, dan hitam memiliki makna simbolik yang mendalam dan tidak hanya berfungsi sebagai elemen estetis, tetapi juga sebagai media komunikasi teologis dan spiritual. Dalam perspektif ikon, warna memiliki kemiripan visual dengan makna yang diwakilinya, seperti putih yang melambangkan kemurnian dan kebangkitan. Dalam perspektif indeks, warna menunjukkan hubungan langsung dengan konteks liturgi tertentu, seperti ungu yang menandakan masa pertobatan. Sementara itu, dalam perspektif simbol, makna warna dibentuk melalui tradisi dan kesepakatan Gereja, seperti merah yang melambangkan pengorbanan dan Roh Kudus. Dengan demikian, warna pakaian liturgi para imam merupakan sistem tanda yang kompleks dan multidimensional yang mengandung nilai teologis, historis, dan spiritual. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan semiotika Peirce efektif dalam mengungkap makna simbolik dalam praktik keagamaan, khususnya dalam liturgi Gereja Katolik.
Downloads
References
Barthes, Roland. (1977). Image, Music, Text. London: Fontana Press.
Chandler, Daniel. (2007). Semiotics: The Basics. London: Routledge.
Eco, Umberto. (1976). A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University
Press.
Geertz, Clifford. (2000). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.
Krismanto, R. (2018). Makna Elemen Interior Dan Warna Pada Arsitektur Gereja Katolik Inkulturatif Di Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran Bantul (Doctoral dissertation, Unika Soegijapranata Semarang).
Kriyantono, Rachmat. (2007). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada
Lai, V., Samdirgawijaya, W., & Devung, G. S. (2019). Makna Simbol Benda
dalam Upacara Pemakaman Menurut Dayak Bahau Umaaq Luhat dan Gereja Katolik. Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral, 1-13.Media.
Panda, H. P. (2022). Makna Teologis Busana Liturgis dalam Gereja. SOLA
GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika, 3(1).
Peirce, Charles Sanders. (1958). Collected Papers of Charles Sanders Peirce
(Vol. I-VIII). Cambridge: Harvard University Press.
Rahmat, Kriyantono. (2007). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.
Sacrosanctum Concilium. (1963). Konstitusi Liturgi Suci Konsili Vatikan II. Vatikan: Libreria Editrice Vaticana.
Samarin, William J. (1998). Field Linguistics: A Guide to Linguistic Field Work.
Tokyo: Mouton Publishers.
Santoso, B. (1990). Pengantar Linguistik Umum. Jakarta: Gramedia.
Saussure, Ferdinand de. (1916). Course in General Linguistics. New York:
McGraw-Hill.
Sentosa, L. (2000). Budaya dan Makna Simbolik. Bandung: Pustaka Pelajar.
Soejono, Soekanto. (1983). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Turner, Victor. (1995). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure.
New York: Aldine Transaction.
Wardani, L. K. (2006). Simbolisme Liturgi Ekaristi Dalam Gereja Katolik Sebuah Konsepsi dan Aplikasi Simbol. Dimensi Interior, 4(1), 17-24.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Oktaviana Orleans Mendonca, Adrianus Berek, Agustinus Seran

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

















