KINERJA EPISTEMOLOGI ISLAM KETERJALINAN NALAR BAYANI, BURHANI, IRFANI MUHAMMAD ABID AL JABARI

Authors

  • Lisa Amelia Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
  • Sri Murhayati Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

DOI:

https://doi.org/10.62567/ijis.v2i1.1939

Keywords:

Nalar bayani, nalar irfani, nalar burhani

Abstract

Nalar bayani, irfani, dan burhani merupakan tiga kerangka epistemologis utama dalam tradisi keilmuan Islam yang berperan penting dalam proses pembentukan, pengembangan, dan validasi pengetahuan. Ketiga nalar ini tidak berdiri secara terpisah, melainkan saling melengkapi dalam membangun pemahaman manusia terhadap realitas, baik yang bersumber dari wahyu, akal, maupun pengalaman spiritual. Nalar bayani bertumpu pada teks-teks otoritatif, khususnya Al-Qur’an dan Hadis, dengan penekanan pada pemahaman kebahasaan, penafsiran, dan penalaran normatif. Melalui pendekatan ini, kebenaran ilmu ditentukan berdasarkan kesesuaian makna dengan teks dan otoritas keagamaan, sehingga nalar bayani berperan besar dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman seperti fikih, tafsir, dan ushul fikih. Sementara itu, nalar irfani menekankan dimensi batin dan pengalaman spiritual sebagai sumber pengetahuan. Nalar ini berangkat dari keyakinan bahwa kebenaran tidak hanya dapat dicapai melalui teks dan rasio, tetapi juga melalui penyucian jiwa, intuisi, dan pengalaman langsung dengan realitas transenden. Pengetahuan dalam nalar irfani bersifat subjektif namun mendalam, karena diperoleh melalui proses kontemplasi, riyadhah, dan kedekatan spiritual kepada Tuhan. Oleh karena itu, nalar irfani banyak berkembang dalam tradisi tasawuf dan filsafat spiritual Islam, dengan tujuan mencapai pemahaman hakikat yang melampaui makna lahiriah. Adapun nalar burhani berpijak pada rasio dan logika demonstratif sebagai sarana utama dalam memperoleh kebenaran. Nalar ini menekankan argumentasi rasional, kausalitas, dan pembuktian sistematis yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam tradisi Islam, nalar burhani banyak digunakan dalam filsafat, ilmu kalam rasional, serta pengembangan ilmu pengetahuan yang bersifat empiris dan analitis. Kebenaran dalam nalar burhani diukur melalui konsistensi logis dan kesesuaian antara teori dan realitas.

References

Sholeh Khudori, “Filsafat Islam”, Ar-Ruzz Media: Jogjakarta, 2016: hal 199-200 Muhammad Nasrudin, et al. “Arah Baru Kajian Pendidikan Kebudayaan Islam Dari Muhammad Abid Jabari.” Ulumuddin: Jurnal Ilmu-ilmu Keislaman 12.2 (2022): 227

Anggun Khafidhotul Ulliyah, dkk. “Perbedaan Epistemologi Bayani, Irfani, dan Burhani, dalam pemikiran islam” (Junal Revorma, Vol. 4, No. 1 Mei 2024), hal. 33.

Zulpa Makiah. "Epistemologi Bayani, Burhani Dan Irfani Dalam Memperoleh Pengetahuan Tentang Mashlahah." Syariah: Jurnal Hukum dan Pemikiran 14.2 (2015).

Muhammadun, Muhammadun. "Kritik Nalar Al-Jabiri; Bayani, Irfani dan Burhani dalam Membangun Islamic Studies Integrasi-Interkoneksi." Eduprof: Islamic Education Journal 1.2 (2019): 133-164

Published

2026-01-21

How to Cite

Lisa Amelia, & Sri Murhayati. (2026). KINERJA EPISTEMOLOGI ISLAM KETERJALINAN NALAR BAYANI, BURHANI, IRFANI MUHAMMAD ABID AL JABARI . Indonesian Journal of Islamic Studies (IJIS), 2(1), 228–234. https://doi.org/10.62567/ijis.v2i1.1939